AKAR GADA PADA KUBIS (PLASMODIOPHORO BRASSICAE)

Clubroot atau Akar Gada merupakan penyakit terpenting pada tanaman kubis-kubisan yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae. Penyakit ini menyebar merata diseluruh areal pertanaman kubis di seluruh dunia khususnya di Eropa dan Amerika Utara. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi. Hampir seluruh tanaman kubis-kubisan misalnya kubis, sawi putih, dan brussels sprout sangat rentan terkena akar gada. Penyebab Penyakit Akar gada menyebabkan kerusakan yang parah pada tanaman rentan tumbuh pada tanah yang terifeksi. Hal ini disebabkan patogen yang menginfeksi tanah ini tetap menjadi saprofit pada tanah sehingga kubiskubisan kurang cocok lagi untuk dibudidayakan di tempat tersebut (Agrios,2005).

Plasmodiophora brassicae yang menyerang kubis ini termasuk dalam kelas plasmodiophoromycetes. Fase somatiknya berupa plasmodium. Plasmodium tumbuh menjadi zoosporangium atau spora rehat. Pada saat perkecambahan, patogen ini membentuk zoozpora yang dapat berasal dari spora rehat. Zoospora tunggal dari spora rehat kemudian memenetrasi akar inang dan tumbuh menjadi plasmodium. Setelah beberapa hari, plasmodium membelah menjadi beberapa multinukleat yang dibungkus oleh membran sehingga sel-sel akar akan bertambah besar. Masing-masing bagian tumbuh menjadi zoosporangium. Setiap zoosporangium terdiri dari empat hingga delapan zoospora yang segera dilepaskan melalui pori-pori pada dinding sel tanaman inang.

Beberapa dari zoospora kemudian bersatu untuk memproduksi zigot diploid yang dapat menyebabkan infeksi baru dan plasmodium baru. Zigot ini terdiri dari nucleus yang dikaryotik. Selanjutnya nukleus ini mangalami fusi (karyogami) yang diikuti meiosis. Akhirnya plasmodium menjadi spora rehat yang akan disebarkan ke tanah dan dapat menginfeksi tanaman selanjutnya.

 

Gejala Penyakit

 

Gejala bibit atau tanaman adalah gejalabibit telah terinfeksi. Hal ini menunjukkan bahwa akar telah rusak, gejala pertama kali terlihat pada akar adalah pembengkakan yang berkembang menjadi distorsi besar atau seperti gada. Keseriusan bergantung kepada usia tanaman dan waktu bersentuhan dengan penyakit tersebut. Awalnya, lading-ladang tamnaman yang sangat kerdil akan muncul di lading. Pada tanaman di waktu-waktu selanjutnya, lading-ladang tanaman akan meluas hingga seluruh lading terinfeksi. Semakin banyak spora yang ada di dalam tanah, maka semakin parah gejalanya. Tanaman kubis mungkin tumbuh tanpa kepala.

Gejala yang khas pada tanaman yang terifeksi Plasmodiophora brassicae adalah pembesaran akar halus dan akar sekunder yang membentuk seperti gada. Bentuk gadanya melebar di tengah dan menyempit di ujung. Akar yang telah terserang tidak dapat menyerap nutrisi dan air dari tanah sehingga tanaman menjadi kerdil dan layu jika air yang diberikan untuk tanaman agak sedikit. Bagian bawah tanaman menjadi kekuningan pada tingkat lanjut serangan penyakit. Spora dapat bertahan di tanah selama 10 tahun, dan bisa juga terdapat pada rumput-rumputan. Penyakit ini bisa menyebar melalui tanah, dalam air tanah, ataupun dari tanaman yang sudah terkena.

Gejala pada permukaan atas tanah dapat dilihat dengan menguningnya daun. Layu pada siang hari dan akan segar kembali pada malam hari (gambar 2b). Tanaman akan kelihatan kerdil, tanaman muda yang terserang akan dengan cepat mati sedangkan tanaman tua dapat bertahan hidup namun tidak dapat menghasilkan krop yang dapat dipasarkan.

 

Penyebaran penyakit

 

            Spora penyakit akar gada dapat bertahan hidup di dalam tanah hingga 20 tahun. Ini berarti jika penyakit akar gada masuk ke ladang hampir tidak mungkin untuk benar-benar menyingkirkannya. Spora bangun dan kemudian berkecambah dengan hadirnyaakar tanaman kubis. Mereka megeluarkan spora berenang yang tertarik ke akar kubis dan berenangke arah mereka ketika tanah sangat basah. Spora melekat pada akar dimana mereka tumbuh dan menyebabkan pembengkakan. Penyakit akan memburuk dengan meningkatnya kelembaban tanah dan suhu tanah naik diatas 20 oC.

            Penyebaran spora yang dorman keladang adalah dengan obyek yang dapat membawa tanah yang terkontaminasi, seperti alat pertanian, sepatu kotor, bibit terinfeksi, hewan pemakan rumput dan air permukaan. Penyebaran umumnya adalah bibit ditanam pada tanah terkontaminasi.

 

Kondisi Yang Mendukung Perkembangan Penyakit

 

Penyakit akar gada berkembang dengan baik pada pH tanah 5,7. Menurun dengan drastis pada pH tanah 5,8-6,2 dan gagal berkembang pada pH 7,8. Perkecambahan spora terjadi pada pH 5,7-7,5 dan tidak akan berkecambah pada pH 8. Tetapi pH tanah yang rendah tidak menjamin terjadinya infeksi untuk semuakejadian. Kisaran temperatur yang optimum untuk bagi perkembangan P. brassicae adalah 17,8-25 oC

Dengan temperature minium 12,2 - 27,2 oC. Kelembaban optimum selama 18-24 jam mengakibatkan perkecambahan dan penetrasi pathogen ke dalam inang kubis kemudian infeksi hanya terjadi jika kelembaban tanah di atas 45 % dan kelembaban diatas 50 % akan menyebabkan penyakit bertambah cepat. Kelembaban tanah di bawah 4 % dapat menyebabkan terhambatnya infeksi.          

Kelembaban yang tinggi dapat disebabkan dengan meningkatnya curah hujan. Intensitas cahaya sangat berpengaruh pula terhadap perkembangan penyakit. Intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan serangan pathogen akan menurun, sebaliknya intensitas cahaya yang rendah dapat menyebabkan berkembangnya patogen dengan cepat sehingga penyakit akibat serangan patogen juga semakin besar.

Jumlah spora rehat akan menentukan tingkat infeksi pada inang. Susensi yang mengandung paling sedikit 106-108 sel spora setiap ml sangat efektif untuk mengadakan infeksi. Disamping itu, kondisi inang turut mempengaruhi perkembangan P.brassicae, seperti kisaran inang,inang yang rentan, dan morfologi dari sistem perakaran serta peran mikroba yang lain.

 

Siklus Penyakit

 

Perkembangan penyakit atau siklus penyakit dapat dijelaskan sebagai berikut. Plasmodium yang berkembang dari zoospora sekunder memenetrasi jaringan akar muda secara langsung. Hal ini dapat mempertebal akar dan batang luka yang terletak di bawah tanah. Setelah itu, plasmodium menyebar ke sel kotikal hingga ke kambium. Setelah seluruh kambium terserang, plasmodium kemudian menyebar ke korteks kemudian ke xilem. Patogen ini kemudian berkelompok membentuk gelendong yang meluas dan berangsur-angsur menyebar. Jumlah sel kemudian bertambah banyak dan membesar.

Infeksi ini dapat menyebabkan sel 5-12 kali lebih besar dari sel yang tidak terinfeksi. Sel yang berkembang abnormal ini dapat menjadi stimulus bagi patogen untuk menyebar lebih cepat dan bahkan dapat menyebabkan sel yang awalnya tidak terifeksi menjadi terifeksi. Sel yang tumbuh abnormal ini dapat digunakan oleh plasmodium sebagai sumber makanannya. Infeksi oleh plasmodium tidak hanya menyebabkan terjadinya pertumbuhan abnormal pada tanaman tetapi juga dapat menyebabkan terhambatnya absorbsi dan translokasi air dan nutrisi dari dan menuju akar. Hal ini menyebabkan tanaman kerdil san layu secara perlahan-lahan. Lebih lanjut lagi, pertumbuhan yang cepat dan sel yag membesar dapat menyebabkan tidak terbentuknya jaringan gabus dan dapat menyebabkan kemudahan bagi mikroorganisme lain untuk menginfeksi tanaman.

 

Strategi Pengendalian

 

Penyakit ini memiliki berbagai bentuk gejala serangan sehingga mendorong untuk memuliakan tanaman yang tahan terhadap penyakit ini. Pengendalian dilakukan dengan menggunakan bibit yang bebas hama dan penyakit. Pergiliran tanaman kurang sesuai diterapkan untuk kasus ini karena sporanya dapat bertahan lama serta gulma yang dapat menyebabkan penyakit ini. Pengapuran tanah untuk meningkatkan pH menjadi 7.2 sangat efektif untuk mengurangi perkembangan penyakit. Penyiraman fungisida Promefon 250EC pada lubang tanam yang dicampur dengan air saat tanam juga dapat mengurangi perkembangan penyakit. Tanaman yang tahan haruslah diuji di beberapa lokasi karena jenis serangannya yang berbeda beda di setiap lokasi (Arismansyah, 2010). Selain itu, penggunaan tanaman perangkap dan perlakuan tanah pembibitan dengan teknik solarisasi juga teruji mengurangi penyakit dan meningkatkan hasil panen (Cicu 2002).

Ada beberapa langkah yang dapat membantu mengendalikan penyakit akar gada dengan cara pembibitan yang ketat dan kebersihan lading diganungkan dengan membuat ladang kurang menarik bagi Plasmodiophora brassicae. Dalam artian ladang yang kita gunakan untuk menanam kubis diberi perlakuan yang tidak disukai oleh Plasmodiophora brassicae, seperti :

A. Pembibitan dan kebersihan ladang

  1. Cegah agar tanah dan bahan tanaman tidak membawa spora dorman memasuki ladang
  2. Jangan tanam bibit yang terinfeksi. Beli bibit dari pemasok yang punya reputasi baik dan tidak memiliki penyakit akar gada.
  3. Jika menumbuhkan bibit sendiri, pastikan menggunakan tanah steril atau ladang-ladang dimana penyakit akar gada belum pernah ditemukan
  4. Pastikan air irigasi yang digunakan pada tempat pembibitan bersih dan tidak terkontaminasi dengan spora penyakit akar gada. Jika tidak yakin sterilkan air dengan merebusnya atau menambahkan kaporit. Perlakuan (treatment) air dengan sodium hipokolrit 1.000 ppm (NaOCL) selam 10 menit. Hal ini dilakukan dengan menggunakan menggunakan 20 ml NaOCL 5.25 % per liter air, misalnya 20 ml so kiln pemutih apel per liter air. Jangan membuat bekas air ini ke sungai dan jangan digunakan diluar tempat pembibitan. Untuk ladang dan kebun, pompa air dan irigasi ke tangki penampung air dan diamkan air selama 12 jam. Spora akan mengendap ke dasar tangki dan buang air di bagian bawah setinggi 30 cm yang mengandung spora dari ladang. Jangan lakukan perlakuan (treatment) air diluar ladang yang luas dengan air kaporit.

  1. Pengendalian ladang

  1. Pilih tempat-tempat dengan pengeringan tanah yang terbaik.
  2. Cata pembacaan pH tanah teratur dan gunakan kapur untuk meningkatkan pH sampai 7-7,5 (lihat lembar fakta pH tanah untuk kubis)
  3. Jangan berlebihan mengairi tanaman
  4. Selang-seling dengan tanaman keluarga non kubis selama mungkin
  5. Gunakan varietas yang lebih toleran atau resisten, kisalnya maxfield
  6. Buang dan bakar tanaman yang terinfeksi dari seluruh tanaman itu, untuk mengurangi jumlah spora
  7. Fungisida
  8. Jangan hanya mengedalkan fungisida untuk mengatasi penyakit akar gada. Gunakan pendekatan pengeloalaan yang terintegrasi
  9. Tidak ada fungisida yang terintegrasi di Indonesia dan khusus untuk mengatasi penyakit akar gada
  10. Hanya fungisida yang berspektrum luas dengan zat aktif karbendasim atau dazoment yang terintegrasi
  11. Bahan kimia ini membahayakan kesehatan manusia jika digunakan secara salah atau tanpa peralatan keselamatan yang sesuai, dan bias merusak tanah jika digunakan secara berlebihan
  12. Bisa juga digunakan agens hayati Trichoderma sp sebagai langkah pencegahan, disemprotkan pada ladang 2 minggu sebelum tanaman di tanam.

Daftar pustaka : 

  • Klinik agrotek sinar tani edisi 15-21 mei 2015 no.3507 tahun XLIII hal. 8
  • www.petanihebat..com

 

Profil BKP4 Kabupaten Probolinggo

Ketahanan pangan merupakan salah satu faktor utama di Indonesia. Bagi Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat besar, masalah pangan selalu merupakan masalah yang sangat sensitive. Pembangunan ketahanan pangan telah menjadi komitmen nasional. Pengaturan pangan yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) No. 7 tahun 1996 menyatakan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat. Pemenuhan pangan dan gizi untuk kesehatan warga negara merupakan investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemenuhan hak atas pangan dicerminkan pada definisi ketahanan Pangan yaitu “kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau”